11 Nov 2012

Inilah Penemuan Dasar Bangunan Candi di Bali

Para peneliti dari Balai Arkeologi Denpasar telah menemukan sepotong dasar bangunan dengan panjang 11 meter di lahan milik Pesraman Ida Resi Pujangga Wisnawa Ganda Kusuma di Banjar Saka, Desa Penatih, Denpasar.
Bangunan ini ditemukan sebulan lalu, oleh tukang yang hendak mengerjakan proyek pembuatan resapan air. Pekerja menemukan batu padas dalam ukuran tidak pada umumnya digunakan sebagai bahan bangunan. Yakni 40cmx40cmx1meter. Ada 22 bongkah batu serta belasan lainnya menempel di tanah, tersusun dalam dua tumpukan.


Peneliti Wayan Suantika menduga kuat penemuan tersebut adalah bakal candi. Sedangkan susunan batu padas yang sudah ditemukan kini merupakan sisi timur dasar candi. "Diyakinkan adalah sisi timur, melihat dari pelipit mistar dan bingkai sisi genta," kata Suantika Selasa 23 Oktober 2012.
Pada sisi tersebut, Suantika juga menunjukkan adalanya bahan pelapis atau lepa pada bagian luar batu. Sedangkan pada sisi seberangnya, lepa ini tidak ditemukan.
Ini pula yang turut menguatkan bahwa situs kali ini adalah dasar bagian timur candi.

Menurut Suantika dasar candi dibangun dengan teknologi yang canggih. Ini melihat dari bentuk dan susunan batu padas.  "Dengan ukuran batu padas sebesar ini, sangat sulit untuk menyusunnya. Teknologi penyusunan batu ini kurang lebih sama dengan Candi Prambanan," ujar dia.
Bentuk dasar bangunan ini mirip dengan bentuk candi di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Suantika menegaskan, pengerjaan yang telah dilakukan sejak 18 Oktober 2012 ini belum selesai. Dan dipastikan, panjang dasar bangunan akan melewati angka 11 meter.

Untuk itu, dia yakin bahwa ini adalah situs terluas di Bali. Sebelumnya, juga ditemukan situs Candi Wasan di Gianyar, dengan panjang total 11 meter dan luas 10 meter.

Suantika tidak berani memerkirakan ukuran candi secara keseluruhan. Yang jelas, melihat dari bentuk dasar bangunan serta tradisi penggunaan lepa, diperkirakan bangunan ini dibuat pada abad ke-14.  "Bangunan candi mulai abad ke-15 sudah seperti pura saat ini. Sehingga saya perkirakan sekitar abad ke-14," ujar Suantika.<KETUT EFRATA>

Tidak ada komentar:

Posting Komentar